Sabtu, 31 Desember 2011

Apresiasi Prosa Fiksi 2


Nama :   Ahmad Fauzan
NIM    :   2222101740
Kelas   :   3D

*      Judul Novel           :     Ketika Cinta Bertasbih (KCB)
*      Pengarang             :     Habiburraman El Shirazy
*       
Novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya Habiburraman El Shirazy atau biasa di sebut Kang Abik, merupakan salah satu novel yang penuh inspirasi. Saat membaca novel KCB, pembaca tidak hanya di sajikan sebuah karya sastra seorang Kang Abik, pembaca juga diajak menikmati tingkat pemikiran penulis. pengarang juga memberikan nilai-nilai bermutu dan akhlak yang baik kepada pembaca dari novel KCB ini. Novel yang menceritakan tentang kisah cinta yang tidak sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah SWT.

Novel KCB ini mengangkat tema pembangunan jiwa, Kang Abik betul-betul dengan sungguh-sungguh menciptakan suatu alur cerita yang mau tidak mau dapat menyadarkan pembacanya terutama saya sebagai pembaca tentang betapa indahnya hidup jika dilandaskan dengan Al-Quran dan Sunnah Rosul.
Awalnya saya bingung ingin membaca novel islami yang seperti apa dan menurut saya novel islami itu pasti tebal-tebal, membuat saya malas untuk membacanya lalu saya mendapatkan novel KCB ternyata benar dugaan saya tebal banget ada 477 halaman, itu juga boleh pinjem novelnya sama teman sekolah dulu dan tidak ada pilihan lagi, apasalahnya untuk membacanya, pikirku pada saat itu. Lalu berlanjut mulai membacanya dengan membaca Basmallah.
Pertama kali yang saya baca novel Ketika Cinta Bertasbih adalah semacam prolog dari Prof. Laode M. Kamaluddin. Ph. D. Nah berawal dari sinilah timbul penasaran saya untuk segera membacanya. Benar saja baru beberapa halaman membaca, kok enak yah mulai dari gaya bahasa dan tutur ceritanya bagi orang awam seperti saya. Pernah saya menonton film Ayat-ayat Cinta, memang jalannya cerita sungguh menyentuh dan lumayan bagus, tapi tidak juga membuat ketertarikan saya untuk membaca novelnya. Akhirnya setelah menamatkan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih dan terbersit rasa kecewa terhadap Filmnya. Kalau menurut sebagian besar orang berpendapat tokoh dari Azzam pada novel Ketika Cinta Bertasbih ini adalah tokoh yang sempurna. Menurut saya tidak sama sekali. Justru saya melihat karakter tokoh-tokoh tersebut nyata, ada dalam kehidupan kita saat ini dan seseorang yang justru sedang ingin menjadi sempurna walaupun boleh dikatakan sangat-sangat ’sedikit’.
Saya suka dengan novel ini bacaannya tidak terlalu berat dan bagus isi ceritanya membangun sekali buat pembaca, terutama yang berbau percintaan yang islami. Menurut saya, novel ini membuat saya semangat untuk membacanya serta tidak membuat saya jenuh, karena sangat menarik dan pembaca bisa mengambil hikmah dan contoh yang baik dalam tokoh-tokoh yang ada dalam isi cerita. Novel ini mengajak untuk menyucikan jiwa serta memberikan motivasi dan pencerahan untuk pembaca, isi ceritanya pembaca rasakan begitu kuat memotivasi untuk pembaca agar lebih berani untuk hidup mandiri. Novel KCB ini menyadarkan apa makna perstasi yang sesungguhnya dan tidak sekedar novel romantis, ini juga novel fikih yang di tulis dalam alur cerita yang tidak mudah di tebak. Pengarang menggunakan terobosan baru menjelaskan kaidah-kaidah fikih dalam novel, menurut pembaca itu bagus sekali tidak hanya dunia saja yang di sampaikan pengarang tetapi tentang akhirat pun di sampaikan oleh pengarang, ini baru percintaan yang sangat murni dan patut di contoh, apalagi buat para remaja zaman sekarang yang pacaran seenaknya saja. Mungkin setelah membaca novel ini yang dulunya tidak suka membaca novel, menjadi suka membaca novel. Walaupun cerita dalam novel dan cerita dalam filmnya itu berbeda sekali, lebih mendetail cerita dalam novel dari pada cerita dalam film, namun saya suka menonton film-film yang kental akan cinta, cinta yang tidak sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah. Biasanya film-film di Indonesia lebih menunjukan atau menojolkan ”paha dan dada” agar film itu banyak peminatnya dan laku di pasaran, inilah bobroknya film-film di Indonesia yang mempunyai pesan yang tidak baik, makanya Indonesia menjadi negara yang payah, menurut saya.
Dan saya melihat pesan moralnya yang ingin disampaikan oleh Kang Abik adalah marilah kita wujudkan Azzam-azzam di negeri ini, kalau bagi generasi sekarang sudah susah paling tidak untuk generasi-generasi yang akan datang yang dimulai dari anak-anak kita. Sehingga yang ’sedikit’ itu menjadi ‘banyak’ dan yang dianggap ‘aneh’ menjadi ‘tidak aneh’ atau sudah menjadi hal yang ‘biasa’ dan tidak ada lagi istilah ’sok suci’, ’sok alim’, ‘jangan munafik’, ‘jangan sok seperti malaikat’.
Novel ini bisa dikatakan sebuah gebrakan atas novel-novel yang dominan selama ini. Membaca novel ini, saya merasakan seperti sedang belajar agama, bagaimana mestinya menjadi seorang muslim yang sejati yang tahu akan tujuan hidup yang sebenarnya. Tidak ada kesan menggurui dan semua mengalir begitu saja, wajar dan apa adanya, tidak seperti sebagian besar cerita-cerita Islami yang pernah saya baca, agak monoton dan berkesan agak menggurui. Novel ini juga bisa dikatakan dakwah yang hidup, seperti menceritakan kisah sholehnya kehiupan para sahabat Nabi tapi tidaklah sesempurna kisah tersebut. Ini anggapan dari saya sebagai pembaca.
Menarik bagi saya saat membaca bab demi bab, di mana kadang timbul pertanyaan di hati, “Kok seperti ini, sepertinya alasannya tidak tepat dan terlalu mengada-ngada”. Tapi begitu berlanjut ke bab-bab berikutnya ternyata jawabannya ada dan sangat sesuai fakta sehari-hari. Seperti pertanyaan, “Kok bisa Azzam sampai 9 tahun belum lulus, padahalkan pintar, kenapa tidak ditamatkan saja kuliah S1nya baru kembali tetap bekerja di Cairo untuk membiayai kehidupan keluarganya?” Ternyata jawabannya ada, yakni karena ingin mempertahankan izin tinggalnya. Belum lagi, “Furqon kok dengan mudah di’perkosa’ di sebuah hotel?”, jawabannya wajar saja, toh yang melakukan agen Mossad. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin timbul dan semuanya terjawab mengalir begitu saja di bab-bab berikutnya, kadang sampai melewati bab-bab yang jauh, pertanyaan itu baru terjawab.
Entah sudah beberapa kali saya menitikkan air mata. Melihat kerinduan Azzam pada Ibu dan adik-adiknya. Furqon yang divonis ke HIV. Keikhlasan seorang Fadhil saat pernikahan Tiara, orang yang dicintainya. Pertemuan Azzam dengan keluarganya. Kisah adiknya Husna dengan Bapaknya. Pernikahan Furqon dengan Anna. Kematian Ibunya Azzam dan patahnya kaki Azzam. Terakhir yang mengharukan, dimana akhirnya Azzam dan Anna menikah. Kadang susah menebak arah jalannya cerita dan banyak kejadian tidak terduga, seperti harapan Azzam akan menikah dengan Anna (mungkin harapan yang sama dari setiap pembaca), di mana sempat diduga tidak akan terwujud, toh akhirnya terwujud dengan tidak terduga-duga.
Setelah saya membaca novel Ketika Cinta Bertasbih saya merasa  mempunyai ghirah (semangat) untuk menjadi seperti tokoh Azzam yang sempat mengingatkan saya kembali ke masa M.A dulu dimana saat itu saya sempat mengisi waktu dengan melakukan aktivitas-aktivitas kegiatan keagamaan Islam. Memang saat itu, diri saya masih jauh dari gambaran seorang Azzam dan beberapa ikhwah temanku yang menurutku sudah mendekati seorang Azzam yang sekarang melanjutkan pendidikannya masuk pesantren di Jawa Timur. Paling tidak dapat membuat saya rindu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Dan alangkah bagusnya novel ini apabila sudah dibaca oleh kalangan pelajar sebelum mereka kuliah, karena bisa menjadikannya sebuah motivasi serta membuka wawasan mereka agar mempunyai plening untuk kedepan dan mempunyai pelajaran setelah membaca novel ini.  
Adapun kelebihan dalam novel ini : novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah serta merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna dan gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan oleh pengarang serta sarat akan pengetahuan. Dan kekurangan dalam novel ini : latar yang dipilih kurang variatif dan kurang menggambarkan kenyataan perasaan yang dirasakan Azzam sang tokoh utama saat kehilangan Ibunya. Juga tidak adanya kisah tentang Sarah (adik bungsu Khairul Azzam) sewaktu peninggalan Ibunda mereka. novel ini juga menggambarkan betapa jodoh adalah rahasia Allah yang sangat tak mudah untuk dapat ditebak oleh manusia. Dapat dilihat dari perjalanan Azzam dalam melakukan ikhtiar untuk mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah SWT. Karena kita membaca saya juga tidak menyangka jodoh yang akhirnya di dapatkan oleh Azzam.

Kesimpulan, mudah-mudahan dengan kehadiran novel ini para pembaca akan sadar pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan selama ini kepadanya, serta sabar dalam menjalani hidup dan dibalik sebuah musibah pasti ada yang lebih terbaik, tidak mungkin Allah memberikan cobaan yang tidak bisa manusia dijalani, dan hidup itu pilihan manusia hidup pasti mempunyai pilihan terutama mencari seorang istri yang di ceritakan dalam novel ini bagaimana tokoh utamnya itu berikhtiar untuk mendapatkan istri yang terbaik di mata ia dan Allah. Manusia di dunia ini hanya bisa berusaha dan berdo’a agar bisa menggapai apa yang di impikan manusia itu sendiri. Di sebut manusia sombong bagi manusia yang barusaha tapi tidak berdo’a kepada Allah dan manusia yang malas kalau berdo’a dan tidak mau berusaha, Allah membenci orang-orang seperti itu,  Azzam adalah contoh baik dia mau berusaha dan berdo’a dan bisa menggapai cinta-citanya mendapatkan gelar S1 di Cairo. Apapun masalah, cobaan atau ujian apapun itu namaya, kita harus mengadu kepada Allah karena Allah lah yang bisa membantu kita serta memberikan solusi yang terbaik entah melalui perantara siapapun dan dimana pun.


Apresiasi Prosa Fiksi


Nama :   Ahmad Fauzan
NIM    :   2222101740
Kelas   :   3D

*      Judul Cerpen        :     Marmut Merah Jambu
*      Pengarang             :     Raditya Dika Nasution


MMJ (Marmut Merah Jambu) merupakan buku kelima dari Raditya Dika Nasution yang akrab dipanggil Radith (lahir di Jakarta, 28 Desember 1984). Buku MMJ (Marmut Merah Jambu) ini bertemakan tentang pahit manisnya percintaan. Dia menggabungkan cinta dengan komedi dalam penulisannya. Radith hadir dengan genre baru dan berbeda dari penulis sebelumnya. Yang membuat dia berbeda adalah dia selalu menggunakan nama binatang pada setiap novelnya. Kambing Jantan, adalah novel pertamanya dilanjut dengan Cinta BrontosaurusRadikus Makan KakusBabi Ngesot.

Radith merupakan sulung dari lima bersaudara, Yuditha, Ingga-Inggi (kembar), Edgar merupakan adiknya. Radith memasukkan nama mereka ke dalam buku MMJ-nya sebagai tokoh-tokoh sebagaimana aslinya. Karena MMJ ini merupakan kisah nyata catatan percintaanya dan sekitarnya. Mengapa dikatakan demikian, karena pada bagian Pengantar Penulis Radith menuliskan “Oh ya, beberapa nama di buku ini disamar, tetapi tempatnya semuanya benar.” itu yang membuat pembaca mengerti bahwa buku MMJ merupakan kisah nyata si penulisnya apalagi tokoh utama dalam buku ini merupakan penulisnya sendiri, Radith.

Saya suka dengan cerpen ini, bacaannya seru banget membuat pembaca tertawa terbahak-bakah dan lupa akan semuah, isi ceritanya bagus banget membangun sekali buat pembaca, terutama yang berbau cinta seorang anak remaja yang ingin mendapatkan wanita pujaan hatinya, apalagi yang sedang jatuh cinta dan yang lagi marahan sama pasangannya. cerpen ini membuat saya semangat untuk membacanya serta tidak membuat saya jenuh, pembaca bisa mengambil hikmah percintaan yang pengarang alami. Isi cerpennya saja menarik banget apalagi flemnya yang belum dibuat. Mungkin cerpen ini adalah solusi buat para remaja zaman sekarang bagaimana mengahadapi pasanganya masing-masing dan bagaimana cara seorang remaja yang ingin mendapatkan seorang wanita pujaanya dengan kegombalan yang baik dan benar.

Secara garis besar, cerpen ini soal cinta dan bagaimana memahami apa itu cinta melalui intropeksi kedalam pengalaman-pengalaman si pengarang, tentu saja dengan gaya komedi. MMJ dimulai dari kehidupan Radith waktu ia duduk di bangku SMP, ia menuliskan SMP Tarakanita dalam buku ini yang juga merupakan SMP sebenarnya seorang Raditya Dika. Dia menceritakan bagaimana dia dan sahabatnya yang mencintai seorang wanita dengan diam-diam, penceritaan yang disampaikan begitu konyol membuat pembaca menjadi tertawa geli ketika membaca bagian-bagian yang disampaikan dengan banyolankhas seorang Raditya Dika, seperti diketahui sebelumnya Radit dikenal sebagai sosok penulis yang khas dengan komedi,banyolan, humor yang cablak, sehingga tak heran kalau didalam cerpennya ini kita akan menemukan ungkapannya yang cablak.

Dalam cerpen ini juga menggunakan latar tempat, lebih tepatnya daerah Jakarta Selatan sering dituliskan di novel ini seperti Kemang, Pondok Indah Mall, McD, dan lain sebagainya, dikarenakan tempat tinggal Radith yang berada di Jakarta Selatan tepatnya di Cikatomas, Kebayoran. Walaupun tempat tinggal Radith memang tidak disebutkan dalam cerpen ini.

Cerpen MMJ (Marmut Merah Jambu) mengangkat tema keadaan percintaan remaja yang cukup menarik. Tema percintaan yang kental, yang berisi gambaran kondisi si pengarang ketika mengalami yang namanya jatuh cinta yang cukup sulit dirasakan oleh pengarang. semangat pengarang yang sangat kuat untuk mendapatkan cintanya. Dan alur yang di pakai menggunakan alur maju dan mundur karena membahas yang sudah pengarang alami. Bahasanya gaul abisss dan gokil bangeeet benar-benar anak remaja. cerpen ini mewakili kehidupan remaja zaman sekarang. Kisah ketegaran, kesabaran, dan kerja keras untuk mendapatkan cinta yang abadi, kemauan kuat dan kesungguhan untuk berjuang demi wanita yang di cintai.

Karena Radith merupakan remaja jadi gaya penulisannya adalah bahasa remaja sekarang yang lebih sering disebut dengan bahasa gaul, begitupun pesan-pesan yang disampaikannya di setiap akhir bagian dari setiap babnya. Apa yang disampaikan Radith dalam buku MMJ (Marmut Merah Jambu) merupakan penceritaan kembali tentang apa yang dialami dalam hidupnya. Radith yang menampilkan watak dirinya apa adanya dalam cerpen ini. Meskipun bahasa yang digunakan dalam cerpen ini adalah bahasa lisan bukan bahasa tulisan, Radith mampu menghadirkan inovasi baru dari beberapa penulisnya. Ia hadir dengan genre baru, yaitu menggunakan nama-nama binatang dalam setiap tulisannya.

Dalam MMJ (Marmut Merah Jambu) ini berisi 13 kisah. Berikut akan saya beberkan sedikit penggalan yang saya sukai :

Orang yang jatuh cinta diam-diam

“Gue lalu tiduran di kasur gue. Aldi tidutan di kasur sebelah gue. Gue diem, Aldi juga diem. Sesekali Aldi memandang kea rah telpon. Kita seperti ketertarikan batin malam itu, setelah gue dimbak-mbakin dan Aldi dibencongin. Malam itu kta tidut berdampingan seperti dua lelaki yang punya disorientasi jenis kelamin.” (Dika, 2010:12)

Misteri surat cinta ketua OSIS

“Giliran Christoper memegangi surat cinta dengan tangan, dia bersender ke belakang. Lama-lama dia tiduran sambil mengankat surat tersebut ke atas. Lalu dengan sutu gerakan cepat, dia bangkit, dari tidurnya. Dia menjerit,’ah! Ya ampun!’
‘Kenapa? Lo nemu apa?!’ Gue heboh.
‘Apa Chris?’ tanya Wahyu. Melotot.
Christoper menjerit, ‘Gue lupa, gue ada les. Gue cabut duluan!’
Aantiklimaks
‘monyet lo!’ teriak Bayu” (Dika, 2010:32)

Balada sunatan Edgar
“Kamu harus sunat sekaarang, ‘kata nyokap pas gue masi SD. Dia lalu menakut-menakuti, ‘temen Mama ada yang telat sunat pas uda tua dan dia memang harus disunat kampak! Lima jam!’ Gila, pake kampak, lima jam pula. Hal ini menimbulkan salah satu asumsi di antara dua pertanyaan: 1) sea lot aapakah tititnya, atau 2) setumpul apakah kampaknya.” (Dika, 2010:42)

Novel ini merupakan kisah nyata si penulis latar sosial dan budaya yang disampaikan dalam novel ini merupakan latar sosial dan budaya yang ada sebenarnya di sekitar penulis, begitupun dengan penokohan yang ada merupakan gambaran jati diri orang yang sebenarnya hanya ada beberapa yang disamarkan.

Kesimpulannya mendapatkan cinta itu bukan dengan pelet atau dengan datang ke dukun terdekat, tetapi menggunakan hati dan persaan serta menyakinkan bahwa kita itu benar-benar sayang kepandanya yaitu wanita yang kita sukai atau cintai, Allah sudah mengatur jodoh para umatnya makanya kita tidak usah takut tidak kebagian pasangan karena pasangan itu akan datang dengan sendirinya kalau kitanya yang mau berusaha dan berdo’a untuk mendapatkannya. Allah membeci orang-orang yang  menggunkan pelet dan pergi ke dukun untuk mendapatkan pasangannya, seakan-akan kita tidak percaya kepada Allah tidak memberikan jodoh. Yang harus di ingat untuk remaja zaman sekarang adalah mencari wanita atau pacar yang idela itu tidak ada tetapi mengidealkan seorang wanita atau pacar itu baru ada.





















Kamis, 29 September 2011

Wanita Impian

 

Tutuplah aurat mu, jadilah wanita yang sangat malu kepada Allah
jadilah wanita yang tuli, bisu, dan buta..
karena engkau adalah kebahagiaan dunia dan akhirat ku
teruslah buat aku penasaran  terhadap mu dengan menutup aurat.
wahai wanita yang shaleha..

 

Hati ini ingin mencinta
Ingin memeluk kau Adinda
Perasaan ini takdapat Ku ubah
Tak dapat pula kau ubah

Ku akui pengalamanmu
Kau lebih tahu dari diriku
Aku baru sekali merasakan cinta
Itu pun tak berlangsung lama

Setiap aku membayangkanmu
Aku selalu teringat masa-masaku
Dimana saat itu, hadirnya selalu menentramkan hati
Selalu mengubah kegundahan hati

Aku menyangka, kau memang dirinya
Yang pergi dari cintaku dari segala hal tentangku
Tapi prasangka tetaplah jadi prasangka
Karena aku tak kenal dekat dirimu

Ku harap Tuhan menjodohkan kita
Dan menakdirkan kita hidup bersama
Menjalin indahnya cinta
Sampai usia mengakhiri hidup kita

Minggu, 25 September 2011

Novel Keberangkatan Karya N.H Dini

Analisis Novel Keberangkatan Karya N.H Dini


Ahmad Fauzan
Program Studi Diksatrasia
 FKIP Untirta

ABSTRAK
Karya sastra pada hakekatnya merupakan sebuah hasil imajinasi dari seorang pengarang. Karya sastra tidak hanya menampilkan keindahan seni saja, melainkan juga menampilkan pola kehidupan manusia serta segala permasalahannya, sehingga wajar apabila dalam menampilkan cerita-cerita tersebut pengarang juga diilhami dari lingkungan sekitarnya. Sastra juga mengungkapkan fakta-fakta tentang kehidupan yang menyangkut sesuatu. Dalam novel ini kita dapat mengetahui bagaimana keadaan atau situasi masyarakat pada saat itu, yang secara otomatis dapat menambah pengetahuan kita. Kita dapat mengetahui bagiamana situasi bangsa Indonesia pada saat itu, dimana terjadi pemberontakan dan demonstrasi kebencian yang ditunjukkan penduduk pribumi terhadap bangsa penjajah dan anak-anak peranakan yang masih tinggal di Indonesia pada saat itu.
 
Kata Kunci : Percintaan, psikologis, Sosiologi.

Pendahuluan
A. Latar Belakang
           
Hadirnya suatu karya sastra tentunya agar di nikmati oleh para pembaca. Seorang sering mengangkat fenomena yang terjadi di masyarakat. Dengan harapan para pembaca dapat mengintrofeksi diri dan  mengambil hikmah dari fenomena tersebut. Alasan mengapa saya memilih novel keberangkatan karya N.H. Dini karena didalam novel ini cerita yang disajikan pengarang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mengenai cinta, kesetiaan dan penghianatan, dan cara pengarang menyajikannya memiliki ciri khas tersendiri. Novel ini juga disajikan secara sederhana, serta sarat dengan amanat yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Cerita ini juga lebih menonjolkan jiwa nasionalisme seseorang, persahabatan dan pencaharian jati diri.

LANDASAN TEORI
       Psikologi Sastra adalah ilmu sastra yang mendekati karya sastra dari sudut psikologi. Dasar konsep dari psikologi sastra adalah munculnya jalan buntu dalam memahami sebuah karya sastra, sedangkan pemahaman dari sisi lain di anggap belum bisa mewadahi tuntutan psikis, oleh karena itu muncullah psikologi sastra yang berfungsi sebagai jembatan interfretasi, penelitian psikologi sastra memfokuskan pada aspek-aspek kejiwaan. Artinya, dengan memusatkan perhatian pada tokoh-tokoh penelitian dapat mengungkap gejala-gejala psikologis tokoh baik yang tersembunyi atau sengaja di sembunyikan pengarang.

1. Hubungan
       Psikologi adalah kajian mengurai kejiwaan dan meneliti alam bawah sadar pengarang. Sedangkan hubungan antara sastra dengan psikolog karena munculnya istilah psikolog sastra yang membahas tentang hukum-hukum psikologyang diterapkan pada karya sastra, misalnya karakter tokoh-tokoh dalam suatu karya sastra diciptakan pengrang berdasarkan kondisi psikologis yang dibangun oleh pengarangnya.

2. Konsep
       Psikologi adalah suatu seni yang biasanya menyajikan situasi yang terkadang tidak masuk akal dan suatu kejadian yang fantasktik. Psikologi dapat mengklasifikasikan pengarang berdasarkan tipe psikologi dan fisiologinya. Mereka bisa menguraikan kelainan jiwa, bahkan meneliti alam bawah sadarnya. Bukti-bukti itu diambil dari dokumen diluar sastra atau dari karya sastra itu sendiri.

3. Ciri-ciri
a)    pengarang menghindari penyesuaian diri dengan norma masyarakat, karena hal itu berarti mematikan arus lingkungan.
b)   adanya kemampuan membayangkan suatu bayangan yang bersifat indrawi.
c)    susunan mental seorang penyair berbeda dengan susunan sebuah puisi.
d)   sebagai gejolak emosi, suatu karya dapat menampilkan hubungan imajinasi dengan kepercayaan.
e)    psikologi merupakan suatu persiapan penciptaan.
f) bersumber dari kebiasaan untuk tidak berbeda-bedakan macam-macam penginderaan.


4. Manfaat
a)    mempertajam kemampuan
b)   membantu mengentalkan kepekaan pada kenyataan
c)    memberi kesempatan untuk memjajaki pola-pola yang belum terjamah sebelumnya
d)   studi tentang perbaikan naskah, koreksi, dan seterusnya karena jika dipakai dengan tepat, dapat membantu kita dapat melihat mana keretakan, ketidak teraturan, perubahan, dan distorsi yang penting dalam suatu karya sastra
e)    menjelaskan tokoh dalam situasi cerita

5. Tokoh
a. Carl Jung
       mengungkapkan bahwa dalam alam bawah sadar manusia ada kesadaran kolektif yakni daerah masa lalu umat manusia di masa sebelum manusia ada dan menciptakan tipologi dan psikologi yang rumit,

b. Freud
       pengungkap konsepsi tentang seniman yang merupakan seseorang yang lari dari kenyataan dan hidup dalam fantasinya.

c. Erich
       pengungkap kemampuan membayangkan hal-hal yang bersifat indrawi merupakan gejala menyatunya kemampuan berfikir dan pengindraan.

d. W. H. Auden
       menekankan bahwa seniman boleh tetap menjadi orang neurotic kalau ia tahan.

Pembahasan
       Pada novel Keberangkatan menceritakan suatu kisah cinta, yang dimana tokoh utamanya itu mengalami kekecewaan dan kecintaanyang berlebihan kepada seorang pemuda dan negaranya. Makanya saya lebih menitik beratkan melalui pendekatan psikologis. Bahwa pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap karya sastra dari segi intrinsik, khususnya pada penokohan atau perwatakannya. Penekanan ini dipentingkan, sebab tokoh ceritalah yang banyak mengalami gejala kejiwaan. Dan yang jadi pertanyaan, kenapa Elisabet Frissart jatuh cinta dan kecewa? Jawabanya karena yang pertama Elisabet Frissart jatuh cinta kepada tanah air dan bangsa Indonesia, sehingga tidak tergoda untuk ikut berangkatke negara Belanda ketika terjadi aksi anti Belanda dan anti Barat pada masa Soekarno. Dan Elisa melihat keberangkatan keluarganya dan orang-orang  sebangsanya ke negeri Belanda. Namun gadis ini atau Elisabet lebih memilih bertahan di Indonesia diya merasa bahwa dirinya adalah orang Indonesia. Yang kedua Elisabet jatuh cinta kepada Sukoharjito pemuda asal Solo. Dengan pemuda ini iya benar-benar jatuh cinta dan percaya kepadanya. Namun akhirnya Elisabet pun harus menerima kenyataan berat bahwa kekasihnya telah menhkhianati dirinya dengan menikahi orang lain. Dan dari orang lain Elisa mendengar bahwa kekasihnya itu segera kawin dengan kemenakan ajudan presiden yang telah dihamilinya. Padahal Elisa terlanjur menyingkirkan pemuda-pemuda yang berhasrat pada dirinya.

B. Analisis Struktur Roman Keberangkatan Karya N.H Dini
1. Tema
       Analisis karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengakji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Analisis strukturalnya sebagai berikut:
       Dalam novel Keberangkatan ini menceritakan tentang kebimbangan dan kecintaan yang di khiyanati atau permasalahan kepercayaan dan kejujuran. Elisabet Frissart jatuh cinta kepada tanah air dan bangsa Indonesia, sehingga tidak tergoda untuk ikut berangkatke negara Belanda ketika terjadi aksi anti Belanda dan anti Barat pada masa Soekarno. Dan Elisa melihat keberangkatan keluarganya dan orang-orang  sebangsanya ke negeri Belanda. Namun gadis ini atau Elisabet lebih memilih bertahan di Indonesia diya merasa bahwa dirinya adalah orang Indonesia. Elisabet jatuh cinta kepada Sukoharjito pemuda asal Solo. Dengan pemuda ini iya benar-benar jatuh cinta dan percaya kepadanya. Namun akhirnya Elisabet pun harus menerima kenyataan berat bahwa kekasihnya telah mengkhianati dirinya dengan menikahi orang lain. Dan dari orang lain Elisa mendengar bahwa kekasihnya itu segera kawin dengan kemenakan ajudan presiden yang telah dihamilinya. Padahal Elisa terlanjur menyingkirkan pemuda-pemuda yang berhasrat pada dirinya.

2. Tokoh
                Penokohan adalah cara pengarang menperkenalkan tokoh–tokoh dalam cerita. Cara menentukan penokohan dalam sebuah karya sastra bisa dengan cara analitik dan dramatic. Cara analitik yaitu pengarang langsung menceritakan atau memperkenalakan tokohnya. Sedangkan cara dramatik adalah pengarang memperkenalakan tokohnya dengan memberikan nama, pengambaran fisik, poembicaraan dan tindakan tokohnya, pengarang memperkenalkan tokohnya secara tidak langsung. Dalam novel ini, pengarang memperkenalkan karakter tokohnya secara lansung (analitik) dan juga secara tidak langsung (dramatik). Jadi, dalam novel ini pengarang menggunakan dua cara tersebut, kutipannya antara lain:

1. Secara Langsung (Analitik)
a)    Karakter Elissa Prisart: pengiba, pembuktiannya ”sekali lagi hatiku dilimpahi perasaan iba yang tidak dapat ku tafsirkan”.( halaman 14)
b)   Karakter Anna: orang yang gigih, pembuktiannya ”kegigihan Anna meneruskan pelajarannya di Pharmasi membuat kami lunak hati untuk memaafkan kesalahan-kesalahannya”. (halaman 44)
c)    Karakter Wati: lemah lembut dan keibuan, pembuktiannya ” Namanya Wati, sifatnya lemah lembut keibuan”. (halaman 46)
d)   Karakter Rini: pemalas, pembuktiannya ” Rini pakaian dalamnya tak karuan. Sobek disana-sini, dikaitkan dengan satu jarum atau dua jarum peniti karena kemalasannya menjahit”. (halaman45)

2. Secara Tidak Langsung (Dramatik)
a)    Karakter Ibu Elissa Prissart: Matrealistis. pembuktiannya ’ ... Apalagi Ibuku, dimatanya hanya uang dan kebendaanlah yang tak terhitung di dunia ini”. (halaman 30)
b)   Bernald Kalb seorang wartawan Amerika: Playboy, pembuktiannya ” Aaaah, jangan berkecil hati, pacarmu banyak selalu gonta-ganti. (halaman 64)

Karakter tokoh–tokoh yang terdapat dalam novel“ keberangkatan “ karya Nh. Dini antara lain :

1. Elissa Frissart (tokoh utama dan tokoh protagonis)
a)    Karakter pengiba, kutipannya “ sekali lagi hati ku di limpahi perasaan iba yang tidak, dapat ku tafsirkan. :” (halaman 14)
b)   Karakter pendiam, kutipannya “ aku menjadi pendiam dan dingin karena tidak banyak diberi kesempatan buat mengataka isi hati. “ (halaman 95)
c)    Karakter sabar, kutipannya “ Aku harus bersabar lagi untuk menerima datangnya pinangan.” (halaman 104)

2. Lansih (tokoh pembantu dan tokoh protagonis)
a)    Karakter berpengaulan luas atau supel, kutipannya “ Aku lebih mengenal temanku Lansih. Kukagumi pergaulannya yang luas, kenalan dan kawan – kawannya merat…………….. “ (halaman 46)
b)   Karakter sabar dan teliti serta tidak angkuh, kutipannya “ dengan teliti dan sabar, setiap kali ada sesuatu yang harus diterangkannya, tanpa keangkuhan dia memberitahuku. ” (halaman 46-47)
c)    Karakter manja, kutipannya “ Dengan akalnya yang lembut dan manja, Lansih berhasil menarik uang lagi ……………” (halaman 53)

3. Ayah Elisa (tokoh pembantu dan tokoh protagonis)
a)   Karakter berpembawaan tenang, kutipannya “ ayahku berbicara dengan tenang. Suaranya barang kali……… “ (halaman 16)
b)   Karakter pengecut, kutipannya “ Dengan tenangnya ayah melihat ibuku memukuli aku. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tak selangkah pun dia beranjak dari tempat duduknya buat menolongku. “ (halaman 21).
c)    Karakter penyayang, kutipannya “ Ada kalanya perhatian Ayah nampak penuh kesayangan kepadaku, …………. “ (halaman 21).
d)   Karakter baik hati, kutipannya Namun Ayahku yang baik tidak tega meninggalkan aku seorang diri di negeri ini ………… “ (halaman 28).

4. Sukuharjito (tokoh pembantu)
a)    Karakter pengecut, kutipannya “ melihat sikapnya yang demikian, bagiku dia pengecut. Tidak berani berterus terang kepadamu. “ (halaman 146)
b)   Karakter tidak tegas, kutipannya “ Sekali lagi hal itu menunjukkan kelemahannya. Dia memang bukan laki– laki yang tegas, kata Anna. (halaman 147)

5. Ibu Elisa (Tokoh antagonis)
a)    Karakter Matrealistis, kutipannya “… apalagi ibuku, dimatanya hanya uang dan kebendaanlah yang terhitung di dunia ini. “ (halaman 30)
b)   Karakter ringan tangan, kutipannya “ Sikapku terhadap ibuku disebabkan karena perlakuannya yang keras dan kuanggap keterlaluan. Tangannya ringan, sering jatuh menampar muka ………… “ (halaman 20- 21)
c)    Karakter pemarah, kutipannya “ Tindakan yang terdorong kemarahan itu, tidaka ada gunanya, malahan menyebabkan buah bibir yang memalukan. “ (halaman 39)

6. Rama Beick (tokoh protagonis)
a)    Karakter ramah dan tidak sombong, kutipannya “ …. Dalam suara yang mengelegar tetapi ramah dan tanpa kesombongan. “ (halaman 80)
b)   Karakter sabar, kutipannya “tak sekali pun menyela. Jari- jari kedua tangannya bertemu merupakan tangkupan yang menunjukkan kesabaran” (halaman 96)

7. Tuan Sayekti (tokoh protagonis)
a)    Karakter baik, pekerja keras dan gigih, kutipannya “….. bagaimana tuan Sayekti memperoleh hartanya dengan jalan kerja keras dan kegigihan yang jarang terdapat pada suku bangsa Jawa.” (halaman 160)
b)   Karakter ramah dan shaleh, kutipannya “ Orangnya ramah terbuka. Nampak beribadah dan shaleh.” (halaman 91)

8. Talib (tokoh pembantu dan protagonis)
a)    Karakter pemarah, kutipannya “ tapi Talib menjadi pasif. Seperti tidak ada kemauan lagi buat hidup. Kemudian menjadi pemarah….” (halaman 106)
b)   Karakter pendiam, kutipannya “ sifatnya pendiam, ……” (halaman 127)
c)    Karakter pasrah, kutipannya “……..dapat merubah sikapnya yang pasip dan pasarah kepada nasib itu. “ (halaman 110)

9. Wati
a)    Karakter lemah lembut dan keibuan, kutipannya “ namanya Wati, sifatnya lemah lembut dan keibuan .” (halaman 46)

10. Silvi (tokoh protagonis)

a)    Karakter baik dan pengertian, kutipannya ‘’ Silvi adalah satu-satunya anggota keluarga dan kerabat yang memanggil Elisa tanpa akhiran ye di belakang namanya. Silvi mengetahui bahwa Elisa lebih suka panggilan nama biasa, seperti orang-orang Indonesia tulen. Hanya Silvi yang mengindahkan kemauan Elisa (Halaman 11).

11. Anna (tokoh protagonis)
a)    Karakter baik dan tidak cerewet (halaman 24)
b)   Karakter ceroboh, kutipannya ” kuakui Anna juga sembrono menerima tanggung jawab yang kani serahkan kepadanya ........ ” (halaman 44).
c)    Karakter gigih, kutipannya ” kegigihannya meneruskan pelajaran itu membikin kami............. ” (halaman 44).

3. Alur/Plot
            Alur sangat penting dalam karya sastra, disini dituntut bagaimana kemampuan pengarang memberikan alur yang membuat pembaca larut dalam suasana cerita. Alur atau plot merupakan jalan cerita atau rangkaian– ranglaian peristiwa yang membentuk jalan cerita. Alur yang digunakan pengarang dalam novel “keberangkatan“ ini adalah alur campuran. Dimana dalam novel tersebut terdapat alur maju yang peristiwanya berurutan, namun disamping itu juga terdapat alur mundur yang menyorot balik peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau. Dalam alur maju juga terdapat alur mundur yang pengarang menceritakan kehidupan tokohnya di masa lampau. Dalam novel ini setiap alur maju, seringkali terdapat alur mundur. Disini pengarang menuntut kejelian pembaca untuk meneliti dan menemukan hal tersebut.

Kutipan Alur Maju :
            “Dalam pencaharian tentang asal – usulku yang sebenarnya, aku menemukan mata rantai yang pertama. Aku bertemu dengan seorang pastur berkulit putih yang bernama Rama Beick. Dia adalah salah satu tetanggaku sewaktu aku kecil, ketika masih tinggal di rumah kami di Surabaya.“ (halaman 81- 84)

            “Sebulan kemudian, aku bertemu dengan kakak perempuanku yang juga kabur dari rumah karena tidak tahan lagi dengan perlakuan ibuku yang terlalu arogan. Aku menemukan kakakku berkat bantuan Rudi, teman kecilku.” (halaman 86-89)
            “Aku bertemu lagi dengan mata rantai yang ketiga, dia bernama Tuan Sayekti. Dia adalah orang yang merawat Talib selama di Jakarta. Talib adalah seorang seniman lukis yang tinggal bersamaku di Surabaya dan yang mengasuhku sewaktu kecil. “ (halaman 104-105).
            “Aku pergi kesurabaya untuk menemui Talib, yang kata kakak perempuan ku kemungkinan besar di adalah ayah kandungku. Aku bertemu Talib, meski awalnya reaksi dia terhadapku terlalu dingin namun aku bahagia karena telah bertemu dengan mata rantai terakhir ku. Yang akhirnya, aku akan menemukan siapa ayahku yang sebenarnya. Rasa penasaranku terhadap masa laluku terjawab sudah, dan aku mengerti mengapa sikap ibu selama ini terhadapku tidak begitu manis.“ (halaman 112-125)

Kutipan Alur Mundur :
            “Dari masa kecilku, aku selalu bersama pembantu. Dapat dikatakan pembantulah yang membesarkan aku, waktu itu aku belum menyadari. Tetapi kata orang, semasa mudanya ibu menjadi intaian banyak laki – laki. Dan Talib, sejak aku lahir hampir dialah yang menjadi pengasuhku. Aku dibawa kemana–mana, aku selalu bersamanya. Bila malam – malam saat aku sakit, bukan ibu yang menemaniki. Ibu entah dimana, tidur dikamar sendirian atau bersama seorang laki–laki, atau bahkan berdansa di gedung pertemuan kota. Itulah gamabaran masa kecilku yang suram, yang tak pernah merasakan perawatan dari ibu kandungku sendiri. “ (halaman 90-91).

            Alur cerita novel keberangkatan ini terdiri dari lima tahapan, yaitu terdiri dari tahapan Eksposisi atau perkenalan, tahap peristiwa mulai bergerak atau complication, tahap konflik atau puncak cerita (klimaks), tahap penyelesaian konflik atau rolling action, dan tahap keputusan konflik atau catastrophe. Rinciannya sebagai berikut :

a.    Tahap perkenalan (Eksposisi)
            lisa Frissart, adalah gadis peranakan Indo yang bekerja sebagai pramugari di GIA yang sangat mencintai tanah air Indonesia ini. Memiliki latar belakang keluarga yang amburadul dan seorang ibu yang berpelakuan keras. Elisa Frissart juga memiliki dua orang adik dan ayah yang terlalu pengecut dan selalu mengalah dari isterinya. Elisa memiliki sahabat–sahabat yang begitu pengertian, juga mempunyai tempat kerja yang begitu kondusif.

b. Tahap peristiwa mulai bergerak (Compication)
            Elisa meninggalkan rumah karena tidak sanggup lagi menerima perlakuan ibunya yang sangat keterlaluan. Dia tinggal di pondokan kemudian pindah ke asrama agar terbebas dari cengkeraman ibunya. Elisa mengawali kemandirian dengan pindah lagi ke perumahan Rajawali yang merupakan sebuah perumahan yang diperuntukkan khusus untuk karyawan GIA bersama keempat teman serumahnya, Elisa berkenalan dengan Sukuharjito yang merupakan saudara sepupunya Lansih dan berhubungan dekat dengan sukoharjito, hingga jatuh cinta.

c. Tahap puncak konfliks (Klimaks)
            Elisa mengetahui bahwa ayah yang selama ini dikenalnya ternyata bukan ayah kandungnya. Elisa kecewa terhadap ibunya yang semasa muda selalu mempermainkan dan mengkhianati laki-laki dan selalu berpindah dari pelukan satu lelaki ke lelaki lainnya. Hati Elisa semakin galau tatkala mengetahui bahwa orang yang selama ini dia anggap paman, yang hanya seorang pelukis biasa ternyata justru kemungkinan besar bahwa dia adalah ayah kandungnya. Elisa juga mendapat pengkhianatan dari Sukuharjito, pria yang diharapkan Elisa akan menjadi suaminya. Semua kejadian itu membuat Elisa syok, dan dengan ambisius dia berusaha sekuat tenaga untuk menguak teka – teki yang menyelubungi masa kecilnya.

d. Tahap penyelesaian konflik (Rolling action)
            Elisa mencoba mencari tahu asal-usulnya dengan mulai mencari dan menemukan mata rantai atau orang-orang yang pernah berhubungan dengan masa kecilnya. Mencoba menggorek dan mencari informasi tentang siapa ayah kandungnya, mengapa perlakuan yang didapatkan Elisa dari ibunya selama ini tak seperti perlakuan seorang ibu pada anaknya. Untuk menemukan mata rantai dan mendapatkan informasi tersebut, Elisa menecitakan dan meminta bantuan dari teman – temannya. Elisa mencoba mengingat tempat dimana dia pernah dilahirkan, bagaimana bentuk rumahnya mereka di Surabaya, meskipun bayangan itu sangat buram. Itu dilakukan dengan harapan dapat mempermudah pencaharian Elisa akan siapa ayah kandungnya. Menanyakan pada orang yang pernah menjadi tetangga Elisa ketika mereka tinggal di Surabaya, mencari tahu dimana para pengasuh serta pembantunya tinggal setelah pindah dari rumah Elisa. Elisa mencoba untuk melupakan sukoharjito yang telah tega meninggalkannya dan menikah dengan gadis lain yang telah hamil duluan, Elisa dapat melupakan Sukoharjito atas bantuan sahabat – sahabatnya dan seorang wartawan Amerika yang bernama Gail.

e. Tahap keputusan konflik
            Elisa senang dan merasa gembira setelah mengetahui siapa ayah kandungnya, Elisa memutuskan merawat Talib yang lumpuh dan penyakitan sampai sembuh dengan bantuan tuan Sayekti. Namun meski telah mengetahui semua masa lalu kehidupannya dulu, Elisa memutuskan untuk pindah ke Belanda untuk kembali kepada ibu, adik – adiknya serta ayah tirinya. Elisa meninggalkan semuanya, pekerjaannya sebagai pramugari, sahabat – sahabatnya, Talib yang kemungkinan besar adalah ayah kandungnya, rasa sakit hatinya terhadap Sukuharjito, dan bumi Indonesia yang sangat dicintainya.

4. Setting/latar
            Latar dalam karya sastra merupakan unsur tempat, waktu, maupun keadaan yang menyebabkan sebuah cerita terjadi. Latar merupakan lingkungan tempat peristiwa terjadi. Dalam karya sastra unsur latar dikategorikan dalam 3 golongan yaitu :

a)    Latar tempat, yaitu tempat dimana peristiwa yang diceritakan terjadi, meliputi tempat atau ruang yang dapat diamati.
b)   Latar waktu, yaitu kapan peristiwa yang diceritakan terjadi dalam karya sastra tersebut.

c)    Latar sosial, yaitu hal–hal yang berhubungan dengan perilaku, tata cara, keadaan atau kebiasaan masyarakat ditempat peristiwa terjadi. Latar sosial juga merupakan suasana yang terjadi ditempata atau daerah yang menjadi latar dalam sebuah karya sastra.

Pada novel “ keberangkatan “ yang penulis telaah ini terdapat latar antara lain adalah sebagai berikut :

1. latar tempat, latar tempat dimana peristiwa yang diceritakan dalam novel ini lebih dominant di Bandara, kutipan latarnya antara lain :

a)    Di bandara bagian pabean dan imigrasi, “ acara perpisahan Elisa dengan keluarganya yang akan pindah ke belanda. (halaman 9-17)
b)   Dibandara bagian pabean. “ Elisa dikenalkan Lansih pada seorang pemuda bernama sukoharjito yang masih saudara Lansih “(halaman 32-34)
c)    Dibandara bagian penerangan . “ Elisa bertemu dengan Kumayas sahabatnya, dan Elisa diberitahu bahwa gaji sudah bisa diambil hariitu, lebih cepat dari waktu yang ditetapkan sebelumnya”(halaman 69 -73)
d)   Bandara diruang pasasi. “ Sukoharjito memberitahu Elisa bahwa dia tidak bisa datang memenuhi ndangan Kumayas “ (halaman 73-76)
e)    Bandara di ruang tunggu pelabuhan udara. “ acara perpisahan Elisa dengan Talib beserta keempat teman serumahnya.” (halaman 189)

2. Latar waktu dalam novel ini antara lain :

a)    Siang hari. Acara perpisahan Elisa dengan keluarganya. (halaman 9-17)
b)   Sore hari. Elisa berkenalan dengan Sukoharjito. (halaman 32-34)
c)    Waktu liburan. Elisa meminta bantuan temannya untuk mendapatkan salah satu rumah di perumhan Rajawali kepada Kumayas. ( halaman 41-42 )
d)   Malam hari. Elisa bertemu dengan Sukoharjito di rumah paman Lansih. (halaman 50)
e)    Cikini. Elisa, Lansih dan Sukoharjito makan sate. (halaman 50- 53)
f)    Malam minggu, Elisa dan Sukoharjito makan malam. (halaman 58- 62)

3. Latar Sosial dalam karya sastra novel keberangkatan ini, antara lain:

a)    Dikota besar Jakarta, sangat terlihat perbedaan antara orang yang berekonomi rendah dengan orang yang serba bercukupan. Dimana masyarakat yang hidup dan tinggal di daerah kumuh keadaannya sangat memprihatinkan, terutama masyarakat yang tinggal di lorong-lorong perkampungan, ribuan rumah dari kayu berdesakan dan berhimpit. Namun ditempat lain, masyarakat yang tinggal di gedung-gedung dan rumah beton terlihat diam tanpa menghiraukan kondisi orang lain. Mereka seolah –olah menutup mata dengan sekeliling. Mereka seolah-olah menghuni dunia yang terpisah. (halaman 9)
b)   Ketegangan yang terjadi sesama penduduk pribumi. Antara yang jiwa nasionalismenya tinggi dengan penduduk yng masih bersimpati dengan bangsa penjajah. (halaman 26)
c)    Sikap nasionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh penduduk Indonesia. Dimana bangsa pribumi tidak menyukai bangsa asing yang mencoba memonopoli bangsa Indonesia. (halaman 27)
d)   Tradisi malam – malam perayaan, memgikuti dansa dan pesta oleh pemuda-pemuda AURI dan GIA. (halaman 46).

5. Gaya bahasa
            Novel “ keberangkatan “ karya Nh. Dini ini memiliki gaya bahasa yang konfleksitas, yaitu keanekaragaman gaya bahasa yang digunakan. Gaya-gaya bahasa tersebut diantaranya terdiri dari majas personifikasi, metafora, hiperbola, ungkapan, peribahasa, istilah, kalimat retorika, dan lain-lain. Kutipan gaya bahasa dalam novel ini diantaranya sebagai berikut :

a)    Kulitnya putih kecoklatan, karena terlalu lama dimakan MatahariKahtulistiwa. (Personofikasi ), halaman 13.
b)   Tubuhnya yang mungil terselip diantara gerombolan itu, seolah-olah sebuah perahu kecil yang terombang-ambing oleh dahsyatnya arus …. ( Metafora ), halaman 13
c)    Kegagalan tubuh dan wajahnya seakan tercetak tepat untuk menjalankan kerja jabatannya. (Hiperbola). Halaman 18
d)   Tetapi ketinggian hatinya tidak dapat menerima keadaan hidup yang sederhana. (Peribahasa). Halaman 23
e)    Dia seperti batang pohon yang bagus, tapi tidak rimbun daunnya untuk dapat dipergunakan sebagai penolak panas matahari. (Perumpamaan) halaman 32
f)    Aku telah disergap oleh mimpi setiap gadis pada tahap pencaharian tiang buat menambatkan perahu. (Alusio) halaman 37
g)   Haruskah kami menempelkan etiket di punggung dengan penjelasan bahwa kami bukan lagi bangsa Belanda, melainkan orang Indonesia seperti mereka…? (kalimat retorika ), halaman 28
h)   Dengan kepanasan hati yang meluap-luap … (Metafora) halaman 39
i)     Tindakan yang terdorong oleh kemarahan itu tidak ada gunanya, malahan menyebabkan buah bibir yang memalukan. (peribahasa) halaman 39

Dalam novel keberangkatan ini pengarang juga menggunakan beberapa istilah, diantaranya :
a)    Dag. (bahasa Belanda) yang berarti salam perpisahan atau ucapan untuk mengakhiri pertemuan. Halaman 10
b)   Kerecap, (bahasa Daerah) yang berarti berisik atau mengeluarkan bunyi saat makan.
c)    Mas, yang berarti penggilan kepada pemuda Jawa.

Note :
a)    Personofikasi adalah gaya bahasa yang menyatakan benda mati seperti makhluk hidup.
b)   Hiperbola adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlebih-lebihan.
c)    Metafora adalah kiasan persamaan dengan menggantikan secara langsung sifat atau keadaan benda yang diganti dengan penggantinya.
d)   Alusio adalah pernyataan atau ucapan yang dinyatakan sebagian kerena orang telah maklum maksudnya.
e)    Retorika adalah sebuah kalimat pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, karena jawaban telah tersimpul dalam pertanyaan.

6. Amanat
            Dalam novel keberangkatan ini, amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah apapun asal usul kita, meskipun pahit dan menyedihkan kita harus tetap menerimanya. Meskipun kita memiliki ibu yang kurang memperhatikan kita, kita juga harus menerima keadaan tersebut. Dengan berpikir positif dan menyadari siapapun dia, bagaimanapun sifat dan tabiatnya, dia tetap ibu kita yang tentunya adalah orang yang melahirkan kita. Dan kita sebagai seorang anak tentunya tak bisa mengingkari semua itu, kita dituntut untuk selalu berbakti.

            Meski ada pepatah kalau buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi tak selamanya pepatah itu berlaku. Meskipun ibu kita memiliki sifat yang tidak baik, kita sebagai anak tidak boleh mengikuti jejak itu. Kita harus bisa melihat mana yang positif dan mana yang negatif, mana yang harus diikuti dan mana yang tidak pantas untuk diikuti, dan kita meskipun hanya sebagai anak berkewajiban untuk menasehati dan memperingati bahwa hal tersebut tidak pantas dilakukan. Kita harus mengerti bahwa orang tua merupakan pokok kelahiran, tiang kokoh suatu asal-usul. Dalam menghadapi masalah kita tidak boleh cepat berputus asa, karena selalu terdapat jalan keluar untuk menghadapi suatu masalah dan kita juga harus menyadari bahwa akan selalu ada hikmah dari sesuatu hal, kita juga harus selalu berpikir positif.

C. Kesimpulan
            Novel Keberangkatan ini sebagai salah satu karya sastra yang lebih menyarankan atau menawarkan beberapa nilai moral, sosial, kejiwaan atau psikologis manusia. Novel mendorong kemampuan pikiran manusia untuk dapat merenung, bermimpi, dan membawa dirinya pada semua situasi yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman imajinatif pengarang. Dengan demikian terbentuklah sikap sensitif terhadap sisa–sisa kehidupan.

            Dari pengkajian yang telah dilakukan, maka kesimpulan dari novel “ keberangkatan “ karya Nh. Dini adalah :
a)    alur atau plot yang ada dalam novel keberangkatan ini menunjukkan alur campuran , yang mana dalam satu novel terdapat alur maju dan alur mundur.
b)   penokohan dalam novel ini disajikan dan ditentukan pengarang dengan cara analitik, yaitu pengarang memperkenalkan tokoh-tokoh dalam novel ini secara langsung.
c)    latar atau setting secara material banyak dilukiskan sehingga pembaca sangat mudah untuk mengetahui dimana cerita ini berlangsung. Tempat terjadinya peristiwa yang lebih dominant dalam novel ini adalah bandara, tempat dimana sang tokoh utama berkerja. Secara material, pengarang juga menjelaskan tempat-tempat kejadian, sedangkan secara sosial cerita ini menunjukkan latar yang jelas, yaitu latar sosial. Jadi dengan demikian sosiologis cerita ini berlangsung di Jakarta.
d)   gaya bahasa yang ditampilkan dalam novel ini cukup beragam, yang menonjol dalam hal ini adalah gaya bahasa yang menggunakan majas personifikasi, yaitu kiasan yang menyatakan benda mati sebagai makhluk hidup.
e)    sudut pandang yang digunakan pengarang dalam novel ini adalah pengarang sebagai orang ke-3, dimana pengarang menempatkan dirinya diluar cerita. Dalm posisi ini pebgarang mnyoroti semua yang dialami oleh semua tokoh dalam cerita.
f)    Persoalan-persoalan yang diangkat menjadi tema cerita adalah pencaharian jati diri. Persoalan utama yang menjiwai persoalan-persoalan lainnya, masalah kehidupan para karyawan GIA Dan AURI yang hidup modern dan bebas.
g)   amanat yang ingin disampaikan pengarang dalam novel ini adalah agar kita menerima dengan lapang dada ( ikhlas ) apapun masa lalu kita, meski itu sangat pahit seklipun. Kegagalan bukan akhir dari semuanya, tapi jadikan pelajaran agar langkah berikutnya tak lagi salah.

DAFTAR PUSTAKA
Atmazaki. 2004. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Jakarta : Angkasa Raya
Bal, Mieke. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta : PT. Gramedia
Dini. Nh. 1987. Keberangkatan. Jakarta : PT. Gramedia