Sabtu, 31 Desember 2011

Apresiasi Prosa Fiksi 2


Nama :   Ahmad Fauzan
NIM    :   2222101740
Kelas   :   3D

*      Judul Novel           :     Ketika Cinta Bertasbih (KCB)
*      Pengarang             :     Habiburraman El Shirazy
*       
Novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya Habiburraman El Shirazy atau biasa di sebut Kang Abik, merupakan salah satu novel yang penuh inspirasi. Saat membaca novel KCB, pembaca tidak hanya di sajikan sebuah karya sastra seorang Kang Abik, pembaca juga diajak menikmati tingkat pemikiran penulis. pengarang juga memberikan nilai-nilai bermutu dan akhlak yang baik kepada pembaca dari novel KCB ini. Novel yang menceritakan tentang kisah cinta yang tidak sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah SWT.

Novel KCB ini mengangkat tema pembangunan jiwa, Kang Abik betul-betul dengan sungguh-sungguh menciptakan suatu alur cerita yang mau tidak mau dapat menyadarkan pembacanya terutama saya sebagai pembaca tentang betapa indahnya hidup jika dilandaskan dengan Al-Quran dan Sunnah Rosul.
Awalnya saya bingung ingin membaca novel islami yang seperti apa dan menurut saya novel islami itu pasti tebal-tebal, membuat saya malas untuk membacanya lalu saya mendapatkan novel KCB ternyata benar dugaan saya tebal banget ada 477 halaman, itu juga boleh pinjem novelnya sama teman sekolah dulu dan tidak ada pilihan lagi, apasalahnya untuk membacanya, pikirku pada saat itu. Lalu berlanjut mulai membacanya dengan membaca Basmallah.
Pertama kali yang saya baca novel Ketika Cinta Bertasbih adalah semacam prolog dari Prof. Laode M. Kamaluddin. Ph. D. Nah berawal dari sinilah timbul penasaran saya untuk segera membacanya. Benar saja baru beberapa halaman membaca, kok enak yah mulai dari gaya bahasa dan tutur ceritanya bagi orang awam seperti saya. Pernah saya menonton film Ayat-ayat Cinta, memang jalannya cerita sungguh menyentuh dan lumayan bagus, tapi tidak juga membuat ketertarikan saya untuk membaca novelnya. Akhirnya setelah menamatkan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih dan terbersit rasa kecewa terhadap Filmnya. Kalau menurut sebagian besar orang berpendapat tokoh dari Azzam pada novel Ketika Cinta Bertasbih ini adalah tokoh yang sempurna. Menurut saya tidak sama sekali. Justru saya melihat karakter tokoh-tokoh tersebut nyata, ada dalam kehidupan kita saat ini dan seseorang yang justru sedang ingin menjadi sempurna walaupun boleh dikatakan sangat-sangat ’sedikit’.
Saya suka dengan novel ini bacaannya tidak terlalu berat dan bagus isi ceritanya membangun sekali buat pembaca, terutama yang berbau percintaan yang islami. Menurut saya, novel ini membuat saya semangat untuk membacanya serta tidak membuat saya jenuh, karena sangat menarik dan pembaca bisa mengambil hikmah dan contoh yang baik dalam tokoh-tokoh yang ada dalam isi cerita. Novel ini mengajak untuk menyucikan jiwa serta memberikan motivasi dan pencerahan untuk pembaca, isi ceritanya pembaca rasakan begitu kuat memotivasi untuk pembaca agar lebih berani untuk hidup mandiri. Novel KCB ini menyadarkan apa makna perstasi yang sesungguhnya dan tidak sekedar novel romantis, ini juga novel fikih yang di tulis dalam alur cerita yang tidak mudah di tebak. Pengarang menggunakan terobosan baru menjelaskan kaidah-kaidah fikih dalam novel, menurut pembaca itu bagus sekali tidak hanya dunia saja yang di sampaikan pengarang tetapi tentang akhirat pun di sampaikan oleh pengarang, ini baru percintaan yang sangat murni dan patut di contoh, apalagi buat para remaja zaman sekarang yang pacaran seenaknya saja. Mungkin setelah membaca novel ini yang dulunya tidak suka membaca novel, menjadi suka membaca novel. Walaupun cerita dalam novel dan cerita dalam filmnya itu berbeda sekali, lebih mendetail cerita dalam novel dari pada cerita dalam film, namun saya suka menonton film-film yang kental akan cinta, cinta yang tidak sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah. Biasanya film-film di Indonesia lebih menunjukan atau menojolkan ”paha dan dada” agar film itu banyak peminatnya dan laku di pasaran, inilah bobroknya film-film di Indonesia yang mempunyai pesan yang tidak baik, makanya Indonesia menjadi negara yang payah, menurut saya.
Dan saya melihat pesan moralnya yang ingin disampaikan oleh Kang Abik adalah marilah kita wujudkan Azzam-azzam di negeri ini, kalau bagi generasi sekarang sudah susah paling tidak untuk generasi-generasi yang akan datang yang dimulai dari anak-anak kita. Sehingga yang ’sedikit’ itu menjadi ‘banyak’ dan yang dianggap ‘aneh’ menjadi ‘tidak aneh’ atau sudah menjadi hal yang ‘biasa’ dan tidak ada lagi istilah ’sok suci’, ’sok alim’, ‘jangan munafik’, ‘jangan sok seperti malaikat’.
Novel ini bisa dikatakan sebuah gebrakan atas novel-novel yang dominan selama ini. Membaca novel ini, saya merasakan seperti sedang belajar agama, bagaimana mestinya menjadi seorang muslim yang sejati yang tahu akan tujuan hidup yang sebenarnya. Tidak ada kesan menggurui dan semua mengalir begitu saja, wajar dan apa adanya, tidak seperti sebagian besar cerita-cerita Islami yang pernah saya baca, agak monoton dan berkesan agak menggurui. Novel ini juga bisa dikatakan dakwah yang hidup, seperti menceritakan kisah sholehnya kehiupan para sahabat Nabi tapi tidaklah sesempurna kisah tersebut. Ini anggapan dari saya sebagai pembaca.
Menarik bagi saya saat membaca bab demi bab, di mana kadang timbul pertanyaan di hati, “Kok seperti ini, sepertinya alasannya tidak tepat dan terlalu mengada-ngada”. Tapi begitu berlanjut ke bab-bab berikutnya ternyata jawabannya ada dan sangat sesuai fakta sehari-hari. Seperti pertanyaan, “Kok bisa Azzam sampai 9 tahun belum lulus, padahalkan pintar, kenapa tidak ditamatkan saja kuliah S1nya baru kembali tetap bekerja di Cairo untuk membiayai kehidupan keluarganya?” Ternyata jawabannya ada, yakni karena ingin mempertahankan izin tinggalnya. Belum lagi, “Furqon kok dengan mudah di’perkosa’ di sebuah hotel?”, jawabannya wajar saja, toh yang melakukan agen Mossad. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin timbul dan semuanya terjawab mengalir begitu saja di bab-bab berikutnya, kadang sampai melewati bab-bab yang jauh, pertanyaan itu baru terjawab.
Entah sudah beberapa kali saya menitikkan air mata. Melihat kerinduan Azzam pada Ibu dan adik-adiknya. Furqon yang divonis ke HIV. Keikhlasan seorang Fadhil saat pernikahan Tiara, orang yang dicintainya. Pertemuan Azzam dengan keluarganya. Kisah adiknya Husna dengan Bapaknya. Pernikahan Furqon dengan Anna. Kematian Ibunya Azzam dan patahnya kaki Azzam. Terakhir yang mengharukan, dimana akhirnya Azzam dan Anna menikah. Kadang susah menebak arah jalannya cerita dan banyak kejadian tidak terduga, seperti harapan Azzam akan menikah dengan Anna (mungkin harapan yang sama dari setiap pembaca), di mana sempat diduga tidak akan terwujud, toh akhirnya terwujud dengan tidak terduga-duga.
Setelah saya membaca novel Ketika Cinta Bertasbih saya merasa  mempunyai ghirah (semangat) untuk menjadi seperti tokoh Azzam yang sempat mengingatkan saya kembali ke masa M.A dulu dimana saat itu saya sempat mengisi waktu dengan melakukan aktivitas-aktivitas kegiatan keagamaan Islam. Memang saat itu, diri saya masih jauh dari gambaran seorang Azzam dan beberapa ikhwah temanku yang menurutku sudah mendekati seorang Azzam yang sekarang melanjutkan pendidikannya masuk pesantren di Jawa Timur. Paling tidak dapat membuat saya rindu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Dan alangkah bagusnya novel ini apabila sudah dibaca oleh kalangan pelajar sebelum mereka kuliah, karena bisa menjadikannya sebuah motivasi serta membuka wawasan mereka agar mempunyai plening untuk kedepan dan mempunyai pelajaran setelah membaca novel ini.  
Adapun kelebihan dalam novel ini : novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah serta merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna dan gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan oleh pengarang serta sarat akan pengetahuan. Dan kekurangan dalam novel ini : latar yang dipilih kurang variatif dan kurang menggambarkan kenyataan perasaan yang dirasakan Azzam sang tokoh utama saat kehilangan Ibunya. Juga tidak adanya kisah tentang Sarah (adik bungsu Khairul Azzam) sewaktu peninggalan Ibunda mereka. novel ini juga menggambarkan betapa jodoh adalah rahasia Allah yang sangat tak mudah untuk dapat ditebak oleh manusia. Dapat dilihat dari perjalanan Azzam dalam melakukan ikhtiar untuk mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah SWT. Karena kita membaca saya juga tidak menyangka jodoh yang akhirnya di dapatkan oleh Azzam.

Kesimpulan, mudah-mudahan dengan kehadiran novel ini para pembaca akan sadar pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan selama ini kepadanya, serta sabar dalam menjalani hidup dan dibalik sebuah musibah pasti ada yang lebih terbaik, tidak mungkin Allah memberikan cobaan yang tidak bisa manusia dijalani, dan hidup itu pilihan manusia hidup pasti mempunyai pilihan terutama mencari seorang istri yang di ceritakan dalam novel ini bagaimana tokoh utamnya itu berikhtiar untuk mendapatkan istri yang terbaik di mata ia dan Allah. Manusia di dunia ini hanya bisa berusaha dan berdo’a agar bisa menggapai apa yang di impikan manusia itu sendiri. Di sebut manusia sombong bagi manusia yang barusaha tapi tidak berdo’a kepada Allah dan manusia yang malas kalau berdo’a dan tidak mau berusaha, Allah membenci orang-orang seperti itu,  Azzam adalah contoh baik dia mau berusaha dan berdo’a dan bisa menggapai cinta-citanya mendapatkan gelar S1 di Cairo. Apapun masalah, cobaan atau ujian apapun itu namaya, kita harus mengadu kepada Allah karena Allah lah yang bisa membantu kita serta memberikan solusi yang terbaik entah melalui perantara siapapun dan dimana pun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar