Nama : Ahmad Fauzan
NIM : 2222101740
Kelas : 3D
Novel “Ketika
Cinta Bertasbih” karya Habiburraman El Shirazy atau biasa
di sebut Kang Abik, merupakan
salah satu novel yang penuh inspirasi. Saat membaca novel KCB, pembaca tidak
hanya di sajikan sebuah karya sastra seorang Kang Abik, pembaca juga diajak
menikmati tingkat pemikiran penulis. pengarang juga memberikan nilai-nilai
bermutu dan akhlak yang baik kepada pembaca dari novel KCB ini. Novel yang
menceritakan tentang kisah cinta yang tidak sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan
kecintaan terhadap Allah SWT.
Novel KCB ini
mengangkat tema pembangunan jiwa, Kang Abik betul-betul dengan sungguh-sungguh
menciptakan suatu alur cerita yang mau tidak mau dapat menyadarkan pembacanya terutama
saya sebagai pembaca tentang betapa indahnya hidup jika dilandaskan dengan
Al-Quran dan Sunnah Rosul.
Awalnya saya bingung ingin membaca novel islami yang
seperti apa dan menurut saya novel islami itu pasti tebal-tebal, membuat saya
malas untuk membacanya lalu saya mendapatkan novel KCB ternyata benar dugaan
saya tebal banget ada 477 halaman, itu juga boleh pinjem novelnya sama teman
sekolah dulu dan tidak ada pilihan lagi, apasalahnya untuk membacanya, pikirku pada
saat itu. Lalu berlanjut mulai membacanya dengan membaca Basmallah.
Pertama
kali yang saya baca novel Ketika Cinta Bertasbih adalah
semacam prolog dari Prof. Laode M.
Kamaluddin. Ph. D. Nah berawal dari sinilah timbul penasaran saya untuk segera
membacanya. Benar saja baru beberapa halaman membaca, kok enak yah mulai dari
gaya bahasa dan tutur ceritanya bagi orang awam seperti saya. Pernah saya
menonton film Ayat-ayat Cinta, memang jalannya cerita sungguh menyentuh dan
lumayan bagus, tapi tidak juga membuat ketertarikan saya untuk membaca
novelnya. Akhirnya setelah menamatkan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih dan
terbersit rasa kecewa terhadap Filmnya. Kalau menurut sebagian besar orang
berpendapat tokoh dari Azzam pada novel Ketika Cinta Bertasbih ini adalah tokoh
yang sempurna. Menurut saya tidak sama sekali. Justru saya melihat karakter
tokoh-tokoh tersebut nyata, ada dalam kehidupan kita saat ini dan seseorang
yang justru sedang ingin menjadi sempurna walaupun boleh dikatakan
sangat-sangat ’sedikit’.
Saya suka dengan novel ini bacaannya tidak
terlalu berat dan bagus isi ceritanya membangun sekali buat pembaca,
terutama yang berbau percintaan yang islami. Menurut saya, novel ini membuat
saya semangat untuk membacanya serta tidak membuat saya jenuh, karena sangat
menarik dan pembaca bisa mengambil hikmah dan contoh yang baik dalam
tokoh-tokoh yang ada dalam isi cerita. Novel ini mengajak untuk menyucikan jiwa
serta memberikan motivasi dan pencerahan untuk pembaca, isi ceritanya pembaca
rasakan begitu kuat memotivasi untuk pembaca agar lebih berani untuk hidup
mandiri. Novel KCB ini menyadarkan apa makna perstasi yang sesungguhnya dan
tidak sekedar novel romantis, ini juga novel fikih yang di tulis dalam alur
cerita yang tidak mudah di tebak. Pengarang menggunakan terobosan baru
menjelaskan kaidah-kaidah fikih dalam novel, menurut pembaca itu bagus sekali
tidak hanya dunia saja yang di sampaikan pengarang tetapi tentang akhirat pun
di sampaikan oleh pengarang, ini baru percintaan yang sangat murni dan patut di
contoh, apalagi buat para remaja zaman sekarang yang pacaran seenaknya saja.
Mungkin setelah membaca novel ini yang dulunya tidak suka membaca novel,
menjadi suka membaca novel. Walaupun cerita dalam novel dan cerita dalam
filmnya itu berbeda sekali, lebih mendetail cerita dalam novel dari pada cerita
dalam film, namun saya suka menonton film-film yang kental akan cinta, cinta
yang tidak sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan
terhadap Allah. Biasanya film-film di Indonesia lebih menunjukan atau
menojolkan ”paha dan dada” agar film itu banyak peminatnya dan laku di pasaran,
inilah bobroknya film-film di Indonesia yang mempunyai pesan yang tidak baik,
makanya Indonesia menjadi negara yang payah, menurut saya.
Dan
saya melihat pesan moralnya yang ingin disampaikan oleh Kang Abik adalah
marilah kita wujudkan Azzam-azzam di negeri ini, kalau bagi generasi sekarang
sudah susah paling tidak untuk generasi-generasi yang akan datang yang dimulai
dari anak-anak kita. Sehingga yang ’sedikit’ itu menjadi ‘banyak’ dan yang
dianggap ‘aneh’ menjadi ‘tidak aneh’ atau sudah menjadi hal yang ‘biasa’ dan
tidak ada lagi istilah ’sok suci’, ’sok alim’, ‘jangan munafik’, ‘jangan sok
seperti malaikat’.
Novel
ini bisa dikatakan sebuah gebrakan atas novel-novel yang dominan selama ini.
Membaca novel ini, saya merasakan seperti sedang belajar agama, bagaimana
mestinya menjadi seorang muslim yang sejati yang tahu akan tujuan hidup yang
sebenarnya. Tidak ada kesan menggurui dan semua mengalir begitu saja, wajar dan
apa adanya, tidak seperti sebagian besar cerita-cerita Islami yang pernah saya
baca, agak monoton dan berkesan agak menggurui. Novel ini juga bisa dikatakan
dakwah yang hidup, seperti menceritakan kisah sholehnya kehiupan para sahabat
Nabi tapi tidaklah sesempurna kisah tersebut. Ini anggapan dari saya sebagai
pembaca.
Menarik
bagi saya saat membaca bab demi bab, di mana kadang timbul pertanyaan di hati,
“Kok seperti ini, sepertinya alasannya tidak tepat dan terlalu mengada-ngada”.
Tapi begitu berlanjut ke bab-bab berikutnya ternyata jawabannya ada dan sangat
sesuai fakta sehari-hari. Seperti pertanyaan, “Kok bisa Azzam sampai 9 tahun
belum lulus, padahalkan pintar, kenapa tidak ditamatkan saja kuliah S1nya baru
kembali tetap bekerja di Cairo untuk membiayai kehidupan keluarganya?” Ternyata
jawabannya ada, yakni karena ingin mempertahankan izin tinggalnya. Belum lagi,
“Furqon kok dengan mudah di’perkosa’ di sebuah hotel?”, jawabannya wajar saja,
toh yang melakukan agen Mossad. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin
timbul dan semuanya terjawab mengalir begitu saja di bab-bab berikutnya, kadang
sampai melewati bab-bab yang jauh, pertanyaan itu baru terjawab.
Entah
sudah beberapa kali saya menitikkan air mata. Melihat kerinduan Azzam pada Ibu
dan adik-adiknya. Furqon yang divonis ke HIV. Keikhlasan seorang Fadhil saat
pernikahan Tiara, orang yang dicintainya. Pertemuan Azzam dengan keluarganya.
Kisah adiknya Husna dengan Bapaknya. Pernikahan Furqon dengan Anna. Kematian
Ibunya Azzam dan patahnya kaki Azzam. Terakhir yang mengharukan, dimana
akhirnya Azzam dan Anna menikah. Kadang susah menebak arah jalannya cerita dan
banyak kejadian tidak terduga, seperti harapan Azzam akan menikah dengan Anna
(mungkin harapan yang sama dari setiap pembaca), di mana sempat diduga tidak
akan terwujud, toh akhirnya terwujud dengan tidak terduga-duga.
Setelah
saya membaca novel Ketika Cinta Bertasbih saya merasa mempunyai ghirah (semangat) untuk menjadi
seperti tokoh Azzam yang sempat mengingatkan saya kembali ke masa M.A dulu dimana
saat itu saya sempat mengisi waktu dengan melakukan aktivitas-aktivitas
kegiatan keagamaan Islam. Memang saat itu, diri saya masih jauh dari gambaran
seorang Azzam dan beberapa ikhwah temanku yang menurutku sudah mendekati
seorang Azzam yang sekarang melanjutkan pendidikannya masuk pesantren di Jawa
Timur. Paling tidak dapat membuat saya rindu untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tersebut. Dan alangkah bagusnya novel ini apabila sudah
dibaca oleh kalangan pelajar sebelum mereka kuliah, karena bisa menjadikannya
sebuah motivasi serta membuka wawasan mereka agar mempunyai plening untuk kedepan
dan mempunyai pelajaran setelah membaca novel ini.
Adapun kelebihan dalam novel ini : novel ini menghadirkan
kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan
kecintaan terhadap Allah serta merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang
penuh akan makna dan gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah
dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan
oleh pengarang serta sarat akan pengetahuan. Dan kekurangan dalam novel ini : latar
yang dipilih kurang variatif dan kurang menggambarkan kenyataan perasaan
yang dirasakan Azzam sang tokoh utama saat kehilangan Ibunya. Juga tidak adanya
kisah tentang Sarah (adik bungsu Khairul Azzam) sewaktu peninggalan Ibunda
mereka. novel ini juga menggambarkan betapa jodoh adalah rahasia Allah yang
sangat tak mudah untuk dapat ditebak oleh manusia. Dapat dilihat dari
perjalanan Azzam dalam melakukan ikhtiar untuk mendapatkan jodoh yang terbaik
dari Allah SWT. Karena kita membaca saya juga tidak menyangka jodoh yang
akhirnya di dapatkan oleh Azzam.
Kesimpulan, mudah-mudahan dengan kehadiran novel
ini para pembaca akan sadar pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang Allah
berikan selama ini kepadanya, serta sabar dalam menjalani hidup dan dibalik
sebuah musibah pasti ada yang lebih terbaik, tidak mungkin Allah memberikan
cobaan yang tidak bisa manusia dijalani, dan hidup itu pilihan manusia hidup
pasti mempunyai pilihan terutama mencari seorang istri yang di ceritakan dalam
novel ini bagaimana tokoh utamnya itu berikhtiar untuk mendapatkan istri yang
terbaik di mata ia dan Allah. Manusia di dunia ini hanya bisa berusaha dan
berdo’a agar bisa menggapai apa yang di impikan manusia itu sendiri. Di sebut
manusia sombong bagi manusia yang barusaha tapi tidak berdo’a kepada Allah dan
manusia yang malas kalau berdo’a dan tidak mau berusaha, Allah membenci
orang-orang seperti itu, Azzam adalah
contoh baik dia mau berusaha dan berdo’a dan bisa menggapai cinta-citanya
mendapatkan gelar S1 di Cairo. Apapun masalah, cobaan atau ujian apapun itu
namaya, kita harus mengadu kepada Allah karena Allah lah yang bisa membantu
kita serta memberikan solusi yang terbaik entah melalui perantara siapapun dan
dimana pun.